Archive for August, 2006

9 Jam bersama “LUSI”

Thursday, August 31st, 2006

Lusi_blast_1 wo….Wo…Wo…WOOOOO…..(baca kayak Sinchan yang lagi tersepona dan kaget ketakutan ga keruan yah..hihihi…)

Gitu deh komentar yang bisa keluar dari mulut gw.
MenGamaTi dan melihat aktifitas "LUSI" dari jarak sejengKaL doang. LIVE view and RepoRt plus pake acara nyaris kecemPlung puLa..alamaT NyusuL MarilYn MOnroe deh..hehehe…Gw bener-bener ngeri liat kondisi disana..

"LUSI" itu kependekan dari LUmpuR Panas SidoaRdjo.
Tau dong apa yang terjadi disana sejak Mei 2006 lalu…
Ini link-nya deh klo belon tau(ckckckck)….
http://id.wikipedia.org/wiki/Semburan_lumpur_panas_di_Sidoarjo

Istilah"LUSI" ini diperkenalkan Pak Amin Widodo, geolog lulusan UGM yang jadi salah satu nara sumber liputan kami(NOS TV-http://www.nos.nl/nos/voorpagina/).
pak Amin yang kini jadi salah satu pengajar di fakultas Teknik Sipil ITS ini, banyak membagi pengetahuannya soal "LUSI" ini.

Dia bilang LUSI muncul karena aktivitas eksplorasi oleh PT Lapindo Brantas di tanah yang dinamik dimana banyak terdapat rekahan dan mengandung kadar minyak dan gas bertekanan tinggi. Tanah ini dia ibaratkan seperti balon berisi tekanan tinggi. Balon itu kemudian pecah karena ditusuk oleh mata bor yang dipakai oleh Lapindo untuk mengekplorasi tanah itu. Nah..karena pengeboran tidak dilakukan sesuai prosedur seperti tidak memasang casing(selubung bor) ada kedalaman 4200-9000 kaki, maka lumpur panas yang keluar sebagai dampak pengeboran itu, naik ke permukaan tanah.

The_vawe Lumpur juga jadi menyebar ke lubang-lubang lainnya karena lumpur ini mencoba mencari jalan keluar dari tekanan yang tinggi di bawah tanah. Lumpur ini pun akhirnya menemukan jalan keluar lewat jalur rekahan yang banyak terdapat di tanah tempat pengekplorasian dilakukan.

(Wait…pada bosen dan ga tertarik yah sama info serius ini yah ? Maafkan..hehehe….)

Jujur..sepanjang 3 bulan cuma bisa melihat dari layar kaca soal aktivitas LUSI ini, gw dibikin semakin penasaran sama kondisi nyatanya di lapangan. Rasanya ga afdol dong kalao ga lihat sendiri. Untungnya ibu bos, dapat approval untuk liputan LUSI ini. Meski dah telat dan gw nyaris keabisan energi sama urusan bikin Film "Peace In Aceh", feature "Pasukan Garuda" dan terus memantau eksekusi Om Tibo, we finallY go there on Thursday, 31 Agustus 2006.

Peliputan dipatok kelar seharian itu. Kami harus dapat semua footage yang kami sudah rencanakan buat feature LUSI ini. Berangkat jam 5 pagi dari kos Mba Ndru karena ga mau bangun kesiangan..kami naik GARUDA yang terbang jam 07.15 dan hrus kembali lagi ke Jakarta dengan ADAM AIR, jam 19.45…hiks..

So, bgitu sampe langsung dijemput Pak Dedi, supir yang aku sewa.
Sempet malu deh di airport Djuanda. Abis bapak ini bawa kertas putih gede,
bertuliskan "ATIK NOS TV BElanda"..hehehehe…MakLum baru kali ini gw digituin…hihihihihi….Padahal pagi jam 6, gw masih sempet gw telpon dan bilang nanti gw hubungi kalau sudah landing. Eh dia udah keburu nyiapin kertas putih itu duluan..hehehehe…

Trus, kami juga berjumpa Pak Amin di Bandara untuk pergi bersama ke lokasi untuk ambil gambar plus wawancara dengannya.

Ada kejadian lucu sih sama Pak Amin. Dari awal dia pengen banget kampusnya dishooting.Dan upayanya membujuk ku supaya wawancara bisa dilakukan di kampusnya masih terus dilakukan bahkan ketika kami sudah selesai dengan tugas kami dan tengah dalam perjalanan pulang ke JKT..hehehehe…

Dia bilang..pengen numpang keren di BElanda kalau kampusnya di shooting.
Tapi kepadanya gw jelasin bahwa untuk kebutuhan gambar, kami perlu melakukan wawancara di lokasi untuk memberi back ground gambar yang lebih tepat dengan tema yang ami angkat dalam liputan kali itu. Untungnya dia mengerti, dan akhirnya setuju meski akhirnya mengeluh pusing dan tidak bisa menghilangkan bau yang tertinggal akibat wawancara dengan kami di sumber utama lumpur panas itu muncul.

Oh iya..Pak Amin juga sempat ketakutan bin panik ketika LUSI yang keluar semakin besar, melutup-letup-bergemuruh seperti suara ombak yang besar di lautan dan mengepulkan asap tebal putih dan hitam. Dia seketika meninggalkan posisinya, padahal pertanyaan belum semua ditanyakan. Sesi wawancara pak Amin dengan kami pun terpaksa dihentikan untuk sementara. IBu bos malah asik mengambil gambar aktivitas LUSI yang mengerikan itu, dengan resiko yang cukup tinggi.

Sebenarnya ibu bos juga takut banget dengan kenekatan dia mengambil gambar pada jarak yang kelewat dekat. dia sempat bilang "If I felt into the hot mud, send my love to my husband yah!"…hehehehe…geblek nih cewe…

Tapi gw pikir kenekatannya itu dipicu karena kebutuhan dan momentum yang tepat dan bagus, juga dukungan dari Piet Prins, konsultan Belanda yang diajak Lapindo mengatasi lumpur itu. Cowok bertubuh tinggi besar ini sangat-sangat helpfull, nice and very much polite…
Taking care of person kinda be deh..hehehehe…Thoughtful abiss…

Bule ini kami jemput di Sommer Set begitu kami berkonvoi dengan mobil pak Amin dari Bandara Djuanda. Dari awal dia bikin gw merasa dihargai, dengan mengajak bicara dengan bahasa Inggris, mski Ibu Bos slalu ngajak atau nanya dia dengan Boso Londo. Tuh baek kan ? Jarang-jarang gw nemu Londo yang kayak gini. Dia bikin gw ikut terlibat dan dalam percakapan mereka dengan berbahasa Inggris supaya gw juga ngerti..(Thanks yah Piet)

Dari sommerset, Pak Amin memilih bergabung dengan mobilku,
sementara Ibu Bos, bergabung dengan mobil Piet.

Perjalanan lancar. Ga ada kendala macam ijin dan birokrasi komplex ga penting itu. Kami dengan mudah masuk lokasi utama semburan dan mengambil semua gambar yang kami perlukan. Mungkin karena Piet ada bersama kami dan orang-orang Lapindo mengenalnya dengan baik meski dia baru 11 hari disana.

Begitu tiba, gw disambut debu tebal bikin kelilipan juga bau sulfur tidak sedap. Pekerjaan pembuatan tanggul yang jebol rupanya sedang dimulai lagi. Eskavator dan banyak alat berat lainnya sibuk mengangkut tanah dan sedikit material dan batu besar. Jalan tol di kilometer 41 terlihat masih basah terendam sedikit rembesan lumpur, tapi ada alat berat yang mulai mengeringkannya.

Abis itu gw jijik lihat tuh lumpur hitam. Trus jadi Sedih karena banyak rumah dan pabrik terendam juga tanaman mati karenanya.
Kesimpulan sementara gw …Luas juga area yang terkena luapan lumpur.

Dan ternyata tanggul yang dibangga-banggakan dan berulang kali ditinggikan Lapindo hingga ketinggian 8 meter, untuk menahan luapan lumpur, cuma terdiri dari bahan tanah. Pantes gampang jebol. Tanah biasa gitu loh. Seberapa kuat sih nahan volume lumpur yang 140 m3 per hari nya ?

The_wide_effect Tapi….setelah diajak "berpiknik" ga jelas sama teman-teman Londo Piet…Gw baru bener-bener nyadar ternyata luar biasa luas area luapan lumpur itu. dari Kilometer sampai ke Desa Glagaharum…lumpur dimana-mana. Di kawasan pabrik ketinggian lumpur hampir menenggalamkan tiang-tiang listrik dan lampu.
Sawah pun jadi korban. Sawah yang mustinya dipanen dua minggu lagi.
Ludes jadi lumpur hitam.
Tak punya nyawa dan manfaat lagi, meninggalkan geram dan nelangsa para petani.

Rumah penduduk juga ternyata tak cuma terendam lumpur. Air berbau tak sedap berwarna hitam yang pastinya tak sehat, juga ikut menenggelamkan rumah-rumah mereka.

Tapi warga tak punya banyak pilihan. Mereka kehilangan semua harta benda mereka.Meski jorok dan tak sehat, mereka tetap mencari apa yang masih bisa digunakan.Bahkan lembaran foto hitam putih yang koyak karena air pun masih berharga. Setidaknya begitu yang dirasakan ibu Khodijah, warga desa jatiRejo.
bersama putri bungsunya dan suaminya gatot, mereka mengangkuti barang apapun yang tertinggal dalam rumah mereka yang terendan lumpur dan air.

Hati dan pikiran mereka nanar. Lapindo diminta bertanggung jawab. Mengganti rugi semua yang sudah rusak akibat lumpur. Uang kontrak rumah dua tahun sebesar Rp 2 juta, jelas tak sepadan dengan kerugian yang mereka derita.

Lalu apa kata Lapindo ?
GM nya Imam Agustino mengatakan bahwa mereka tengah melakukan their maximum effort to handle this mud problems. Kata MAXIMUM EFFORT ini berulang kali dia tegaskan dalam wawancara dengan kami di sebuah ruangan hotel Shangri-La yang mereka jadikan salah satu tempat koordinasi dan rapat.

He looks serious with his statement, meski gw tau statement dia bahwa sumber semburan lumpur itu bukan milik Lapindo karena jaraknya 150 meter dari sumur pengeboran mereka, adalah bullshit.Yang menarik dari Imam ini, adalah selain masih sangat muda bin ganteng dan ramah, ternyata bapak yang juga kerja untuk LIPI ini, baru menjabat jd GMnya Lapindo selama 40 hari saja. Nah Lo….

Well, Yang jelas…gw pesimistis dengan keseriusan Lapindo.
Meski tau mereka lagi kacau balau dan pusing tujuh keliling sama urusan lumpur ini, gw pikir mereka tetap harus bertanggung jawab dan trully melakukan their optimal effort. Mudah-mudahan aja sih..skenario menutup sumber luapan dari tiga sumur sekaligus bisa berhasil meski warga harus menunggu tiga bulan lagi upaya itu selesai. Soal opsi membuang lumpur ke Selat Madura begitu saja karena dinilai tidak mengandung bahan berbahaya, tetap gw tolak.

Yang namanya buang sampah mah dimana-mana kalau tak diolah dengan benar,
pasti merusak alam. Pun, gw masih percaya dengan penjelasan Pak Amin, bahwa ada senyawa logam dalam lumpur yang tidak bisa larut dalam air, dan akan mengambang di permukaannya. dan itu akan membuat matahari tidak bisa menembus dasar laut lalu mematikan biota yang hidup di dalamnya.
Mending lumpurnya dimanfaatkan jadi bahan batu bata atau genteng atau keramik kalau memang benar bisa dilakukan.

Tapi sayang, gw belum menemukan hasil kajian unsur-unsur dalam lumpur itu.
apa benar seperti yang disebut pak Amin atau tidak.
Nanti deh ya..klo nemu diinformasikan lagi.

for the time being…TOLAK Lumpur dibuang Ke Laut !!!!

9 Jam bersama “LUSI”

Thursday, August 31st, 2006

Lusi_blast_1 wo….Wo…Wo…WOOOOO…..(baca kayak Sinchan yang lagi tersepona dan kaget ketakutan ga keruan yah..hihihi…)

Gitu deh komentar yang bisa keluar dari mulut gw.
MenGamaTi dan melihat aktifitas "LUSI" dari jarak sejengKaL doang. LIVE view and RepoRt plus pake acara nyaris kecemPlung puLa..alamaT NyusuL MarilYn MOnroe deh..hehehe…Gw bener-bener ngeri liat kondisi disana..

"LUSI" itu kependekan dari LUmpuR Panas SidoaRdjo.
Tau dong apa yang terjadi disana sejak Mei 2006 lalu…
Ini link-nya deh klo belon tau(ckckckck)….
http://id.wikipedia.org/wiki/Semburan_lumpur_panas_di_Sidoarjo

Istilah"LUSI" ini diperkenalkan Pak Amin Widodo, geolog lulusan UGM yang jadi salah satu nara sumber liputan kami(NOS TV-http://www.nos.nl/nos/voorpagina/).
pak Amin yang kini jadi salah satu pengajar di fakultas Teknik Sipil ITS ini, banyak membagi pengetahuannya soal "LUSI" ini.

Dia bilang LUSI muncul karena aktivitas eksplorasi oleh PT Lapindo Brantas di tanah yang dinamik dimana banyak terdapat rekahan dan mengandung kadar minyak dan gas bertekanan tinggi. Tanah ini dia ibaratkan seperti balon berisi tekanan tinggi. Balon itu kemudian pecah karena ditusuk oleh mata bor yang dipakai oleh Lapindo untuk mengekplorasi tanah itu. Nah..karena pengeboran tidak dilakukan sesuai prosedur seperti tidak memasang casing(selubung bor) ada kedalaman 4200-9000 kaki, maka lumpur panas yang keluar sebagai dampak pengeboran itu, naik ke permukaan tanah.

The_vawe Lumpur juga jadi menyebar ke lubang-lubang lainnya karena lumpur ini mencoba mencari jalan keluar dari tekanan yang tinggi di bawah tanah. Lumpur ini pun akhirnya menemukan jalan keluar lewat jalur rekahan yang banyak terdapat di tanah tempat pengekplorasian dilakukan.

(Wait…pada bosen dan ga tertarik yah sama info serius ini yah ? Maafkan..hehehe….)

Jujur..sepanjang 3 bulan cuma bisa melihat dari layar kaca soal aktivitas LUSI ini, gw dibikin semakin penasaran sama kondisi nyatanya di lapangan. Rasanya ga afdol dong kalao ga lihat sendiri. Untungnya ibu bos, dapat approval untuk liputan LUSI ini. Meski dah telat dan gw nyaris keabisan energi sama urusan bikin Film "Peace In Aceh", feature "Pasukan Garuda" dan terus memantau eksekusi Om Tibo, we finallY go there on Thursday, 31 Agustus 2006.

Peliputan dipatok kelar seharian itu. Kami harus dapat semua footage yang kami sudah rencanakan buat feature LUSI ini. Berangkat jam 5 pagi dari kos Mba Ndru karena ga mau bangun kesiangan..kami naik GARUDA yang terbang jam 07.15 dan hrus kembali lagi ke Jakarta dengan ADAM AIR, jam 19.45…hiks..

So, bgitu sampe langsung dijemput Pak Dedi, supir yang aku sewa.
Sempet malu deh di airport Djuanda. Abis bapak ini bawa kertas putih gede,
bertuliskan "ATIK NOS TV BElanda"..hehehehe…MakLum baru kali ini gw digituin…hihihihihi….Padahal pagi jam 6, gw masih sempet gw telpon dan bilang nanti gw hubungi kalau sudah landing. Eh dia udah keburu nyiapin kertas putih itu duluan..hehehehe…

Trus, kami juga berjumpa Pak Amin di Bandara untuk pergi bersama ke lokasi untuk ambil gambar plus wawancara dengannya.

Ada kejadian lucu sih sama Pak Amin. Dari awal dia pengen banget kampusnya dishooting.Dan upayanya membujuk ku supaya wawancara bisa dilakukan di kampusnya masih terus dilakukan bahkan ketika kami sudah selesai dengan tugas kami dan tengah dalam perjalanan pulang ke JKT..hehehehe…

Dia bilang..pengen numpang keren di BElanda kalau kampusnya di shooting.
Tapi kepadanya gw jelasin bahwa untuk kebutuhan gambar, kami perlu melakukan wawancara di lokasi untuk memberi back ground gambar yang lebih tepat dengan tema yang ami angkat dalam liputan kali itu. Untungnya dia mengerti, dan akhirnya setuju meski akhirnya mengeluh pusing dan tidak bisa menghilangkan bau yang tertinggal akibat wawancara dengan kami di sumber utama lumpur panas itu muncul.

Oh iya..Pak Amin juga sempat ketakutan bin panik ketika LUSI yang keluar semakin besar, melutup-letup-bergemuruh seperti suara ombak yang besar di lautan dan mengepulkan asap tebal putih dan hitam. Dia seketika meninggalkan posisinya, padahal pertanyaan belum semua ditanyakan. Sesi wawancara pak Amin dengan kami pun terpaksa dihentikan untuk sementara. IBu bos malah asik mengambil gambar aktivitas LUSI yang mengerikan itu, dengan resiko yang cukup tinggi.

Sebenarnya ibu bos juga takut banget dengan kenekatan dia mengambil gambar pada jarak yang kelewat dekat. dia sempat bilang "If I felt into the hot mud, send my love to my husband yah!"…hehehehe…geblek nih cewe…

Tapi gw pikir kenekatannya itu dipicu karena kebutuhan dan momentum yang tepat dan bagus, juga dukungan dari Piet Prins, konsultan Belanda yang diajak Lapindo mengatasi lumpur itu. Cowok bertubuh tinggi besar ini sangat-sangat helpfull, nice and very much polite…
Taking care of person kinda be deh..hehehehe…Thoughtful abiss…

Bule ini kami jemput di Sommer Set begitu kami berkonvoi dengan mobil pak Amin dari Bandara Djuanda. Dari awal dia bikin gw merasa dihargai, dengan mengajak bicara dengan bahasa Inggris, mski Ibu Bos slalu ngajak atau nanya dia dengan Boso Londo. Tuh baek kan ? Jarang-jarang gw nemu Londo yang kayak gini. Dia bikin gw ikut terlibat dan dalam percakapan mereka dengan berbahasa Inggris supaya gw juga ngerti..(Thanks yah Piet)

Dari sommerset, Pak Amin memilih bergabung dengan mobilku,
sementara Ibu Bos, bergabung dengan mobil Piet.

Perjalanan lancar. Ga ada kendala macam ijin dan birokrasi komplex ga penting itu. Kami dengan mudah masuk lokasi utama semburan dan mengambil semua gambar yang kami perlukan. Mungkin karena Piet ada bersama kami dan orang-orang Lapindo mengenalnya dengan baik meski dia baru 11 hari disana.

Begitu tiba, gw disambut debu tebal bikin kelilipan juga bau sulfur tidak sedap. Pekerjaan pembuatan tanggul yang jebol rupanya sedang dimulai lagi. Eskavator dan banyak alat berat lainnya sibuk mengangkut tanah dan sedikit material dan batu besar. Jalan tol di kilometer 41 terlihat masih basah terendam sedikit rembesan lumpur, tapi ada alat berat yang mulai mengeringkannya.

Abis itu gw jijik lihat tuh lumpur hitam. Trus jadi Sedih karena banyak rumah dan pabrik terendam juga tanaman mati karenanya.
Kesimpulan sementara gw …Luas juga area yang terkena luapan lumpur.

Dan ternyata tanggul yang dibangga-banggakan dan berulang kali ditinggikan Lapindo hingga ketinggian 8 meter, untuk menahan luapan lumpur, cuma terdiri dari bahan tanah. Pantes gampang jebol. Tanah biasa gitu loh. Seberapa kuat sih nahan volume lumpur yang 140 m3 per hari nya ?

The_wide_effect Tapi….setelah diajak "berpiknik" ga jelas sama teman-teman Londo Piet…Gw baru bener-bener nyadar ternyata luar biasa luas area luapan lumpur itu. dari Kilometer sampai ke Desa Glagaharum…lumpur dimana-mana. Di kawasan pabrik ketinggian lumpur hampir menenggalamkan tiang-tiang listrik dan lampu.
Sawah pun jadi korban. Sawah yang mustinya dipanen dua minggu lagi.
Ludes jadi lumpur hitam.
Tak punya nyawa dan manfaat lagi, meninggalkan geram dan nelangsa para petani.

Rumah penduduk juga ternyata tak cuma terendam lumpur. Air berbau tak sedap berwarna hitam yang pastinya tak sehat, juga ikut menenggelamkan rumah-rumah mereka.

Tapi warga tak punya banyak pilihan. Mereka kehilangan semua harta benda mereka.Meski jorok dan tak sehat, mereka tetap mencari apa yang masih bisa digunakan.Bahkan lembaran foto hitam putih yang koyak karena air pun masih berharga. Setidaknya begitu yang dirasakan ibu Khodijah, warga desa jatiRejo.
bersama putri bungsunya dan suaminya gatot, mereka mengangkuti barang apapun yang tertinggal dalam rumah mereka yang terendan lumpur dan air.

Hati dan pikiran mereka nanar. Lapindo diminta bertanggung jawab. Mengganti rugi semua yang sudah rusak akibat lumpur. Uang kontrak rumah dua tahun sebesar Rp 2 juta, jelas tak sepadan dengan kerugian yang mereka derita.

Lalu apa kata Lapindo ?
GM nya Imam Agustino mengatakan bahwa mereka tengah melakukan their maximum effort to handle this mud problems. Kata MAXIMUM EFFORT ini berulang kali dia tegaskan dalam wawancara dengan kami di sebuah ruangan hotel Shangri-La yang mereka jadikan salah satu tempat koordinasi dan rapat.

He looks serious with his statement, meski gw tau statement dia bahwa sumber semburan lumpur itu bukan milik Lapindo karena jaraknya 150 meter dari sumur pengeboran mereka, adalah bullshit.Yang menarik dari Imam ini, adalah selain masih sangat muda bin ganteng dan ramah, ternyata bapak yang juga kerja untuk LIPI ini, baru menjabat jd GMnya Lapindo selama 40 hari saja. Nah Lo….

Well, Yang jelas…gw pesimistis dengan keseriusan Lapindo.
Meski tau mereka lagi kacau balau dan pusing tujuh keliling sama urusan lumpur ini, gw pikir mereka tetap harus bertanggung jawab dan trully melakukan their optimal effort. Mudah-mudahan aja sih..skenario menutup sumber luapan dari tiga sumur sekaligus bisa berhasil meski warga harus menunggu tiga bulan lagi upaya itu selesai. Soal opsi membuang lumpur ke Selat Madura begitu saja karena dinilai tidak mengandung bahan berbahaya, tetap gw tolak.

Yang namanya buang sampah mah dimana-mana kalau tak diolah dengan benar,
pasti merusak alam. Pun, gw masih percaya dengan penjelasan Pak Amin, bahwa ada senyawa logam dalam lumpur yang tidak bisa larut dalam air, dan akan mengambang di permukaannya. dan itu akan membuat matahari tidak bisa menembus dasar laut lalu mematikan biota yang hidup di dalamnya.
Mending lumpurnya dimanfaatkan jadi bahan batu bata atau genteng atau keramik kalau memang benar bisa dilakukan.

Tapi sayang, gw belum menemukan hasil kajian unsur-unsur dalam lumpur itu.
apa benar seperti yang disebut pak Amin atau tidak.
Nanti deh ya..klo nemu diinformasikan lagi.

for the time being…TOLAK Lumpur dibuang Ke Laut !!!!

NaSionaLisme-PaTrioTisme

Tuesday, August 29th, 2006

Suara sepatu lars serentak berirama

Ratusan lelaki berpakaian loreng bersenjata kumplit, pembawa misi damai mulai bergerak, mengikuti aba-aba

Penuh semangat melangkahkan kaki,

sembari bernyanyikan mars… *******************************************************************************

Berkibarlah benderaku

Lambang suci gagah perwira

Di seluruh pantai Indonesia

Kau tetap pujaan bangsa

Siapa berani menurunkan engkau

Serentak rakyatmu membela

Sang merah putih yang perwira

Berkibarlah Slama-lamanya

*******************************************************************************

Lagu karangan Ibu Sud ini memang luar biasa D.A.H.S.Y.A.T !!!

Aneh bin ajaib. Lagu soal patriotisme ini,tiba-tiba bisa bikin gw jadi excited gitu. Jadi bersemangat dan cinta bangsa. Padahal kemarin, gw sendiri wondering about my own nasinalism. http://non_atik.blogs.friendster.com/non_atik/2006/08/are_you_nasiona.html

Well, sekilas info, lagu yang dikarang Ibu Sud alias Saridjah Niung Bintang Soedibio ini, adalah salah satu bentuk patriotismenya. Ia mengarang lagu ini, karena terinspirasi oleh kegigihan http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/j/jusuf-ronodipuro/index.shtml

pada tahun-tahun pertama Indonesia berdiri. Tokoh pers ini menolak menurunkan Sang Saka Merah Putih yang sedang berkibar di kantornya, walaupun dalam ancaman senjata api, pada malam 21 Juli 1945.

Ternyata, bicara soal nasionalisme dan patriotisme, gw menemukan dua konsep ini punya makna yang berbeda. Dalam tulisan yang berjudul Patriotisme dan Nilai Kemanusiaan, RR Ardiningtyas Pitaloka, S.Psi, seorang mahasiswa Pascasarjana Psikologi Kekhususan Sosial Sains Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengutip defenisi yang diungkapkan oleh dua penulis asing Blank& Schmidt.

Mereka mengatakan bahwa Nasionalisme lebih bernuansa dominasi, superioritas atas kelompok bangsa lain, penekanan pada adanya perasaan "lebih" atas bangsa lain. Sedang Patriotisme lebih berbicara akan cinta dan loyalitas.

Hm..kembali ke topic awal yah. Entah lagunya atau karena momentum yang tepat, gw jadi excited gitu. Melihat pasukan Garuda yang berjumlah seribuan orang, gabungan dari empat kompi bertugas menjaga perdamaian di Libanon dalam bendera PBB berbaris, lalu menyanyikan lagu ini, sepertinya membangkitkan rasa cinta bangsa dan Negara.

Kejadiannya hari ini, Selasa, 29 Agustus 2006, di Divisi I Infanteri KOSTRAD, Cilodong, Depok. Upacara gelar pasukan ini dimulai pukul 09.00 WIB, dipimpin Kasum TNI, Letjen Endang Suwarya.

Thanks GoD, gw on time dan masuk hitungan yang datang awal, meski tadinya sempat khawatir dengan kemacetan Jakarta gara-gara pembuatan 4 jalur bus way. Gw masih sempat lihat tentara-tentara itu duduk-duduk menunggu perintah sambil ngecengin kita (gw dan bos yang notabene bule pirang). We are the girls power journalist !!!!(hihihi…)

Trus, dari segitu banyaknya tentara, gw musti nemuin putra Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono(SBY)-Lettu Agus Harymurti-. Dan hasilnya…tidak sukses. Susah tau…bedain mereka dengan pakaian seragam nan loreng dan tutup kepala biru bertuliskan UN.

Luckily, ada aba-aba lewat speaker besar yang memerintahkan mereka berdiri, berbaris lalu menuju lapangan upacara. Gerombolan tentara itu jadi terbagi ke dalam kelompok yang lebih kecil, sehingga memudahkan untuk diamati.

Dan kali ini, gw berhasil !!!! I found him ! Mas Agus Harymurti, keliatan paling bersih, dan tinggi dalam kelompok barisannya. Kebetulan dia juga ditempatkan di bagian paling depan. Jadi memudahkan untuk mengambil gambar.

Sumpah..baru kali itu gw lihat dia begitu dekat. Cakeup euy. Pantes Annisa POhan mau merit sama dia..Ganteng gitu loh…hehehehe…

Setelah kumpul semua, upacara pun dimulai. Wartawan diberi instruksi khusus soal mekanisme pengaturan tempat mengambil gambar dan pertanyaan yang boleh diajukan ketika door stop Kasum pasca upacara.

Setengah jam kemudian upacara bubar. Tidak ada yang khusus dengan upacara kali ini. Cuma pemandangan sejumlah tank yang bercat putih dengan tulisan UN di bagian depan saja yang berbeda. Aktraksi lapangan oleh tentara belum ada, karena pelatihannya baru akan dimulai pada 7-11 September mendatang.

Sebelum pelatihan lapangan itu, mereka juga diberi pembekalan materi militer umum dan khusus seperti menjinakkan ranjau dan asistensi hukum, kemanusiaan dan HAM. Pasukan pun akhirnya dibubarkan untuk mendapat pembekalan. Pembubaran juga diwarnai aksi baris sembari menyanyikan lagu yang sama “ Berkibarlah Benderaku”.

Lalu, muncul pertanyaan di benak gw.

Kenapa lagu itu yang dikumandangkan ?

Kan mereka pasukan penjaga perdamaian yang dituntut untuk bersikap netral ? Tidak memihak Israel maupun Libanon.

Kenapa menyanyikan lagu yang sangat kuat bernuansa bela Negara itu yah ? Sepertinya tidak tepat deh. T

api kalau alasannya itu adalah lagu yang biasa diyanyikan para tentara untuk membangkitkan semangat mereka dalam menunaikan tugasnya, sah-sah aja sih.

Asal bukan tugas berperang loh ya.

Peace !!!!

Aduh

Friday, August 25th, 2006

PeninG

MuaL

Ga EnaK baDaN

ImsoNia kemBaLi

Benci …..

N.O.L.

Thursday, August 24th, 2006

Matanya nanar
Nyaris tanpa ekspresi.
tiada lagi air mengalir disana
Telaganya mulai SuruT
Telaganya kehilangan Jiwa
Ia mati suri..

sang TElaga MEraTaP
LaLu Berteriak lantang dengan sisa YanG Dia PunYa
"Aku Bingung !!! Aku LimbunG !!!
WaHai Lelaki PencemBuru, dimana kamu ?
Apa YanG TerjaDi dengan KITa ?
Atau suDah tiada lagi "KITa" ???”

tiada JaWabaN
Telaga cuma Bisa kemBali diaM
BertaNya-TaNya sendiRi..

Telaga puN kembaLi MeRaGu
Kembali Ke Titik Semua ini Bermula
Titik NOL…

Telaga kini cuma Mampu Nyaris Meyakini
MeYAkini dengan Apa Yang SemuLa Ia TakutKaN
bahwa DaHaga SanG LelaKi YanG DiKasiHinya SeSaaT
TeLaGanya ditinggaL Pergi untuk SekiaN KaLinya
Lalu kemBali SendiRi mesKi Tak pernah jadi dirinya Yang dulu LaGi

DaN TElaga kini tahu Rasa Yang Ia miliki tak Lagi NyaTa
Rasa Yang ia Punya lagi-lagi berkeliaran
MenggantungNya dengan milyaran pertanyaan dan triliunan harapan
Harapan yanG kini jadi tak Lagi kosong tapi Mati..

"Wahai Lelaki-ku..Kamu Berlogika sekaRanG. Kamu muLai membuat piliHan. SmoGa Tiba Pada titiK dimana Hal Terbaik Yang hendak kau capai."

How ObjeCtiVe YoU CaN Be ?

Wednesday, August 23rd, 2006

SEnja itu, sebuah pelajaran didapat.
Bahwa sebagian besar orang begitu mudah menilai orang lain hanya dari permukaan saja.
Dari apa yang tampak di luar. Kesan pertama yang tertinggal.
Dan bahwa penampilan menjadi tolak ukur utama yang menentukan penilaiannya.
dan Kami(aku dan sahabatku Ari) masih termasuk di antara mereka…
so how do You start to be more objective about others people appearance ?

begini critanya…
Jumat sore itu, kami menyusuri gang demi gang jalan Kayu Manis-Penggalang-Proklamasi-
demi menemukan tempat huni baru yang akan kami tinggali.
Letih sekali kaki ini…ternYata stamina kami tak seperti masa kami masih jd mahasiswi yang rela jalan kaki alias long march sekitar 35 km dari Tawang Mangu-Kentingan Solo.

dari pencarian ini, ada saja kejadian lucu,agak spooky dan aneh serta mengesalkan.
Pertama-tama, kami sempat Dicurigai oleh pemilik kost dengan tatapan penuh selidik …
pemilik kost ini mempertanyakan soal asal usul kami dengan kata-kata seperlunya. sikapnya agak kaku karena lebih sering menggunakan kalimat pendek ketika bertanya. Pdahal kami merasa cukup sopan dan halus ketika melihat kondisi rumah yang mungkin akan kami tempati.

Yang lucu dan bikin shock, adalah ketika kami tiba-tiba disodok pertanyaan tak penting dari seorang perempuan berjaket Pemuda Pancasila. Perempuan berpenampilan "sangat laki" dengan berbagai macam kalung dilehernya ini, mengaku sebagai penjaga kost yang kami lihat di jalan Penggalang. Kami shock karena kami yang tidak melihat dia sebelumnya dan sedang berjalan keluar dari gang kost itu berada, tiba-tiba ditanya dengan pertanyaan " Barusan dari atas ? "

Wow…kaget dong…"Sapa ni ? Ngomong sama kita nih ? Emang kita kenal yak ? Kapan Kita kenalnya ? Kok dia bisa tau kita tadi lihat kamar atas yak ? Salah apa yak lihat kamar di atas tanpa permisi dulu dengannya ? Waduh !!!!"

Itu deh sejumlah pertanyaan yang muncul di kepala kami, akibat pertanyaan ujug-ujug tadi.
Tapi ga sempat terucap. Cukup lewat ekspresi muka kami yang pastinya terbengong-bengong ga karuan karenanya..hehehehe…..

Akhirnya kami cuma bisa menjawab dengan nada ragu "Iya".
TRus dia bertanya lagi "Ada yang nganter ga ?" Kami jawab "Enggak".
Eh perempuan ini malah nyerocos "Dasar gila tuh cewe yang duduk di depan ! Bukannya kasih tau kamar mana aja yang kosong malah cuek aja. Emang baru keluar dari Rumah Sakit Jiwa tuh orang !"

Begitu dia menutup percakapan dengan kami sembari ngeloyor pergi meninggalkan kami yang masih juga terheran-heran. Tapi kami jadi mengerti siapa yang sebenarnya Gila dalam hal ini..hihihi….

Kejadian agak menyebalkan, kami temui lagi ketika kami mengunjungi lokasi kost di tepat jalan Proklamasi. Disini kami langsung diusir pergi oleh penjaga kost dengan "cara khusus"-nya. Melihat tampang kami yang lecek turun dari bajaj, dia tak ambil peduli dengan sejumlah pertanyaan yang kami ajukan tentang tempat itu. Dia pikir dia bisa langsung menutup percakapan dengan menyebut harga Rp 1 JUta rupiah untuk sewa sebulan kamar dengan fasilitas AC itu.

"Wow…bapak penjaga yang berdagang makanan siap saji berbaju batik itu, rupanya menilai kami tak mampu membayar sewa sebenarnya tempat ini," pikir kami. Alih-Alih menyebut harga sewa yang sebenarnya, dia pilih menyebut angka yang jelas sangat tak masuk akal untuk fasilitas yang ditawarkan. Pun, aku sendiri sudah sempat mengantongi harga sewa tempat itu dengan menelpon sang pemilik rumah sebelumnya. Harga sewa sebenarnya cuma Rp. 350 ribu/bln. Tapi si bapak penjaga memilih untuk berbohong dan menambahnya dengan mengatakan baru saja dihuni, beberapa saat sebelum kami tiba. Ugh…Such A Big LiaR !!! Apa sih maksudnya bersikap seperti itu ? Pliss deh….

Dengan bersungut-sungut, kami bergegas pergi. Tapi sebelumnya, satpam penjaga kost yang sama berbaik hati memberitahukan lokasi kost lain yang bisa kami kunjungi. Kami pun berterima kasih dan melangkahkan kaki menuju belakang kantor Majalah Tempo, masih di jalan Proklamasi.

Kesan yang bapak satpam ini tinggalkan sangat menyakinkan. Dia memastikan supaya kami cukup bertanya rumah Pak RT, untuk menemukan lokasi yang dimaksud.

Tapi yang kami dapat hanya respon dingin tak acuh dari Pak RT. Kami akhirnya malah diantar dengan seorang perempuan paruh baya yang berpenampilan mirip perempuan penjaga kost di jalan penggalang. Namanya tante Eny. Kami sempat berpikir…"Jangan-jangan ibu ini sama perilakunya dengan yang tadi kami temui", ketika kami dibuat keheranan karena diminta menunggu kepulangan sang pemilik kost yang tak pasti.

Untungnya sang anak laki-laki pemilik kost memberi tau kalo ibunya belanja ke HERO. seketika kami smua sadar bahwa ini akan makan waktu lama. dan tante Eny pun menunjukkan dua tempat lain lalu meninggalkan kami tanpa meminta imbalan yang semula kami pikir terpaksa harus kami berikan padanya.

MAAF ya Tante Eny…ternyata anda memang niat membantu. Maaf atas prasangka kami.

So…the journey berakhir sampai disitu. Di ujung jalan Tambak, penuh kelelahan-keringat-dan basuhan teh botol sosro di tenggorokan, kami berbincang-merewind-mendiskusikan dan menyimpulkan apa yang kami alami hari itu.

Kami pikir sikap tak ramah sejumlah orang yang kami temui, dikarenakan penampilan kami yang lusuh.Belum lagi dengan tas daypack lumayan besar yang aku bawa kemana2 karena sedang "lari"..hihihi…
Wajar dan bisa dimaklumi sih…Tapi yah itu tadi, mengesalkan juga lah.
Emang salah ya berpenampilan tak terlalu rapi ?
Buatku sih, penampilan kami masih cukup baik. Bercelana jeans dan berkaos, cukup baik dan sopan kan ?
Lusuh yang kami muncul, kan karena kelelahan kami berjalan kaki dari gang ke gang mensurvey rumah-rumah sewa…Berkeringat dan lengket tertinggal di wajah kan wajar to ?
tapi entah ya kalo menurut kamu-kamu semua ?
Pun akhirnya kami juga disadarkan dengan prasangka buruk kami ketika menilai buruk Tante Eny..
ternyata orang kebanyakan masih suka menilai orang lain dari tampak luarnya saja.
Terus gimana dengan istilah "DOnt Judge The BooK From Its CoveR ?"
Tinggal istilah aja yah ?
Waduh !!!!!!!!!!!

ArE YoU NasioNalisT EnouGH ?

Wednesday, August 16th, 2006

Pertanyaan ini umumnya muncul setiap HUT RI akan dirayakan

Kadang saya bertanya pada diri sendiri

“Masihkan rasa itu tertinggal di sanubari ?

Akankah saya membela Negara saya,

bila ada Negara lain menyerang kami dengan bom ?

Apakah saya akan membela keputusan pemerintah saya ketika,

Negara kami dituduh sebagai Negara teroris ?

Atau apakah saya menyalahkan orang-orang Papua yang lari dan minta suaka kepada pemerintah Nugini atau Australia? “

Jawabannya…Saya rasa Tidak.

Lalu kalau begitu, apakah itu berarti saya tidak nasionalis lagi ?

=================

Bicara soal nasionalisme, adalah sesuatu yang buat saya pribadi masih menjadi pertanyaan besar. Sebagai generasi 80-an..generasi yang hidup pada jaman modern(begitu istilah orang kebanyakan, meski sebenarnya tidak), generasi yang lumayan dekat dan kerap bersentuhan dengan yang namanya dunia maya-rock n roll-britpop-doyan makan junk food dan pizza, pemuja Limp Bizkit atau Eminem atau BritNeY SpeaRs, berbahasa campur aduk-bahasa ibu dengan bahasa Inggris-, sebut saja GENERASI SLANK, saya merasa nasionalisme bukan lagi jadi barang atau sesuatu hal yang penting.

Mengapa ?

Saya tidak tahu pasti. Saya pikir generasi muda sekarang punya tuntutan yang berbeda dengan generasi yang dulu sangat terinspirasi dengan konsep nasionalisme, konsep CINTA BANGSA dan NEGERI. Bukan lagi pada soal bela Negara seperti yang dulu terjadi ketika kita dijajah Belanda atau Jepang. Tapi saya pikir lebih mengarah pada cinta bangsa sendiri. Konsep memajukan dan benar-benar menyejahterakan bangsa kita. RAKYAT !

Yang jelas, Saya sudah tak hapal lagu Indonesia Raya. Atau sila-sila Pancasila. Atau isi UUD 1945. Atau ikut upacara 17-an atau lomba-lomba asal seru yang rutin di adakan di kampung saya. Lalu saya jadi penasaran, apa anak-anak sekolah atau anak kampus masih harus “terjajah” dan dicekoki dengan penataran P4(Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila) yah sekarang di tempat belajar dan mengembangkan wawasan mereka ?

Yah maaf kalau saya bilang penataran P4 sebagai penjajahan. Masih ingat kan penataran P4 ? Adalah Tap MPR No. II MPR/1978 yang menetapkan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dalam bentuk 36 butir Pancasila. Agar meresapi dan mengamalkan nilai luhur Pancasila, dulu setiap warga negara Indonesia harus mengikuti Penataran P4. Di sekolah, setiap siswa baru harus ikut penataran P4 selama 1 atau 2 minggu. Tak lupa, dalam mata pelajaran PMP (sekarang PPKn) siswa juga harus hafal 36 butir Pancasila tersebut.

Masyarakat umum pun dituntut untuk ikut Penataran P4 apabila ingin ambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan. Ada penataran P4 pola 10 jam sampai 100 jam. Kalau sudah lulus penataran P4, berhak mencantumkannya dalam daftar riwayat hidup yang seolah menjadi jaminan sudah menjadi manusia Pancasilais.

Duh…Buat saya pribadi sih, masa itu sangat menyebalkan dan melelahkan. Puluhan bahkan ratusan jam dihabiskan hanya untuk menularkan isi-isi atau penerapan Pancasila. Dan itu dengan jeda yang sangat minim. Belum lagi kewajiban membuat makalah, atau diskusi dan jaket almamater yang tebal bin sumuk karena panas. Bukan sebuah pengalaman yang asik untuk diingat. Pun, kini, saya sama sekali lupa apa saja yang saya dapatkan dari penataran itu. Sumpah !

Jaman upacara saban Senin di SD sampe SMA pun, jadi bagian penjajahan yang dulu belum saya sadari sama sekali. Saya cuma tau itu wajib karena harus memakai seragam putih-putih dan bersepatu hitam berkaus kaki putih. Mau tak mau saya ikuti aturan bodoh itu. Atau kalau pun saya sedang cerdik, saya pilih berakting mau pingsan, demi sebuah kesejukan di ruang UKS(Unit Kesehatan Sekolah) tanpa harus mengikuti rutinitas yang tak lagi punya banyak arti.

Terakhir saya masih menyukai kegiatan upacara ini,adalah saat masih duduk di bangku SD. Ada rasa bangga yang luar biasa waktu itu. Mungkin karena masih sangat kecil, jadi belum paham betul dengan politik dan situasi bangsa dan negeri kala itu. Saya pikir waktu itu, saya masih sangat naïf dan mudah untuk dijejali dengan doktrin-doktrin nasionalisme lewat upacara bendera, menjadi petugas pengibarnya atau menjadi pembaca UUD 1945 tanpa teks. Saya masih ingat betul bagaimana bangganya saya, ketika ditunjuk menjadi pembaca naskah UUD 1945 pada sebuah upacara bendera di sekolah. Saya diminta untuk menghapal dan saya berhasil. Rasanya hebat betul saat itu.

Perasaan macam itu lalu pudar seiring saya bertambah umur. Dan benar-benar jadi pertanyaan besar, ketika saya jadi paham soal realitas bangsa. Realitas bangsa yang saya saksikan digusur, belum menerima aliran listrik, dipajaki, dijejali dengan janji-janji, rebutan mengantri minyak tanah, terinjak dan mati ketika mencairkan bantuan dari pemerintah, dilupakan jasa-jasanya oleh Negara, tidur di gerobak, hidup dari satu kolong jembatan ke kolong jembatan lainnya atau berlari-lari dari kejaran aparat tramtib. Sungguh sedih dan sangat menggeramkan hati. Saya benci penguasa negri ini.

Mereka yang mustinya pegang amanat dan mandat UUD 1945, untuk menjamin kemerdekaan, kebebasan dan kesejahteraan rakyat, malah lari. Cuma terbiasa memperkaya diri dengan korupsi. Lalu apa saja yang sudah mereka pelajari dari ini ? Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

JAdi heran…Saya pikir tidak ada yang salah dengan nilai-nilai Panacasila maupun UUD 1945. Bagi saya, apa yang dituangkan para pendiri bangsa dan Negara ini dalam dua produk itu sangat mulia. Sangat indah dan idealis. Sayang, pelaksanaannya kini jadi seolah tiada arti. Atau bahkan sama sekali tidak pernah dilaksanakan sesuai arti dan makna yang dimiliki. Tidak diresapi ?

Mungkin masing-masing anda yang bisa menjawab pertanyaan ini.

MY HoLiDaY

Thursday, August 10th, 2006

Mau tau

kan

kemana liburan sebulan ini dihabiskan ?

(taela..

gaya

banget yak, serasa orang penting aja sih..kikikik…)

Ini satu lokasi yang paling “memorable” lah.

Paling tidak buat aku dan si ehem..PaCaR RahasiaKu..

Liburan 5 hari kami(*alias HoneYmoon begitu istilahnya..hihihi), salah satunya kami lewatkan di Cukang Taneuh alias GREEN CANYON. The_waterfalls

Naon teh Cukang Taneuh ? Itu sih katanya yang punya bahasa Sunda artinya jembatan tanah. Menurut artikel yang ku baca, pemilihan nama ini karena ada jembatan tanah yang digunakan petani sebagai jalan pintas menuju kebun pertanian di daerah itu. Tapi jujur deh, aku sendiri tidak melihat penampakannya ketika berkunjung kesana, 11 Juli 2006 lalu. (*Kamu lihat ga Sayang ? hehehe…)

WeLL anyway, GREEN CANYON emang keren banget !!! Sumpah !

Menurutku sih ga kaLaH sama kolam air alami di

Tahiti

. YaH, at Least begitulah yang aku bisa lihat dan BanDingKan dari apa YanG Ku Tau lewat tayangan documenter wisata TahiTi yang kebetulan ku lihat di TV, tePat di PaGi sebelum Kami pergi ke

GREEN

CANYON

.

P7220028Kami beranGkaT ke

sana

setelah makan siang dengan mengendarai sepeda motor sewaan seharga Rp. 40 ribu. Jaraknya SeKitar 31 kilometer dari tempat kami menginap, yakni di dekat Pantai PanGanDaRaN. Dengan kecePaTan motor yang cukup Tinggi, kami Cuma perlu waktu 30 menit menuju Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang. 

OH Iya, sebelum kami mencaPai GREEN CANYON, kami sempat melihat ada lokasi wisata pantai yang juga bisa dikunjungi. Itu adanya pas  di tengah perjalanan, sekitar 14 km, di Desa Ciliang Kecamatan Parigi. Nama obyeknya Pantai Batu Hiu.

Tapi kami sengaja tidak mengunjunginya dulu. Waktu yang tersisa tak banyak. Hari keburu sore. Kami pun memutuskan untuk langsung ngebuT menuju

GREEN

CANYON

.

SekiTaR jam 2 siang, akhirnya kami sampai juga. Loket sudah mau tutup dan kami sepertinya orang terakhir yang datang. Dengan uang Rp 70 ribu, kami membayar tiket perahu di Dermaga Ciseureuh yang akan membawa kami ke lokasi. (“Hm..mahal juga sih pikirku. Di Jawa Barat gitu loh. Masak harganya sebegini mahal ? Its better be worthed ! Awas klo Enggak ! hehehehe…”).

P7110209 Sebenarnya harga ini ditetapkan untuk sewa satu perahu yang ditetapkan maksimal bisa diisi 5 orang penumpang. Tapi karena kami tidak menemukan orang lain yang bisa diajak patungan, Yo

wis

. Akhirnya dengan perahu motor, kami berdua hanya ditemani dua orang pemilik perahu menuju lokasi. Bener-bener kayak HOneymooN euy, hehehe…

Perjalanan pun di mulai. Air sungai yang kami lewati begitu hijau bening dan bersih.GA ADA SAMPAH ! Wow..aku suka banget. SaLut sama warga yang pikirku Tau cara menJaga Lingkungan, Dengan TIdak Membuang samPaH ke SUngAi. HEbat..Hebat !

Sepanjang sungai yang kami lalui, ada begitu banyak rerimbunan pohon dan tinggi di kanan dan kiri bukit. Semuanya serba bernuansa hijau. (*Aku merasa berUntung karena berkostum pink. Jadi kontras

kan

dengan kondisi disana ? hehehehe..)

MendeKati ujung sungai, sekitar 10 Menit dari titik awal perahu kami berangkaT, air sungai mulai dangkal dan kekuningan. Kami melihat ada bekas dam tua di kanan sungai. Kami pun bisa melihat dasar sungai yang dihiasi bebatuan kuning kecoklatan dengan bentuk yang unik. (*Aduh..bagus banget deh pokoknya. Aku amaze gitu, karena baru kali itu lihat dasar sungai seperti itu sih..hihihi…)

Stalaktik Tak Lama kemudian, perahu kami pun berhenti dan diparkiR. Kami disambuT pemandangan

Goa

dengan dengan stalaktif dan stalaknit yang mempesona. Suara gemercik air, samara-samar terdengar dari pintu gua itu. Kami pun semakin tak sabar untuk memasukinya. SEgera meLepas celana jeans dan menuju suara gemercik air itu.

Eits, aku juga disarankan memakai rompi pelampung, karena tidak bisa berenanG..hiks.

Lalu kami pun memasuki gua, dan melihat pemandangan yang jauh lebih indah.

Ada

tebing-tebing nan tinggi menjulang dengan air mengucur dari atas. Namanya air terjun palatar. Bagus banget. Apalagi pas kami disana, ada sinar matahari mengenai airnya…So muncul pelangi deh…Aduh..Keren..keren..KEREN pisan !!!! The_waterfalls_1

Awalnya kami berjalan kaki melewati satu tebing ke tebing lainnya. Kadang lewat bebatuan kering dan kadang bebatuan yang tergenang air sungai. Dasar Sungai banyak dihiasi bebatuan kunig kecoklatan yang bagus banget. Tapi akhirnya air sungai semakin dalam untuk dilalui dengan berjalan kaki. Dengan terpaksa dan takut-takut aku harus berenang.

SumPah !!! Aku takut setengah mati. Takut Tenggelam. Tiga Kali punya pengalaman tenggelam, wajar dong bikin aku trauma sama yang namanya Berenang. Tapi klo aku ga berenang, sayang

kan

melewatKan momentum bagus kayak gini ?

So bermodalkan keyakinan dari si ehem, aku nyemplung juga. Deg-degan banget deh. Lalu jadi panic ketika kakiku ga napak dasar sungai. Teriak-teriak ga karuan karena ga mau ditinggal..hihihi… But finally sukses juga, diajari berenang meski ga bisa-bisa amat. Yah minimal, aku bisa mencapai air terjun yang ada di hampir ujung gua. Merasakan arus balik, membiarkan tubuh basah kuyup dan mengalir mengikuti air…Wuih sumpaH…Ga TeRLupakan Lah. Pengalaman Paling DashYat SeuMuR Hidup, hehehe…

(*Terima kasih Sayang, sudah berhasil menyakinkanku Yah !)

Oh Iya…hati-hati dengan todongan para pemilik perahu yang membawa kita ke lokasi gua

GREEN

CANYON

. Bukan todongan macam perampok, maksudku.Tapi tawaran mereka untuk menunggu dan menjadi semacam guide selama kita menikmati wisata berenang air alami disitu. Awalnya mereka minta Rp 30 ribu untuk ongkos menunggu selama 30 menit. Semula kami tak setuju karena kami pikir kami tak akan berlama-lama disitu. Tapi pemandangan yang dahsyat dan keasikan bermain air yang menyesatkan, membuat kami akhirnya dengan rela merogoh RP. 25 ribu untuk mereka. (*pertimbangan kemanusiaan, karena rupanya benar dugaanku bahwa Pemkab setempat banyak mengkorup uang Rp. 70 ribu yang kami bayar untuk satu kali tiket masuk.

Para

pemilik perahu ini mengaku hanya uang Rp. 18 ribu saja dari Rp. 70 ribu itu ! Pun dia sudah dengan sangat baik hati memberi petunjuk jalur-jalur tebing yang aman untuk kami lalui. Terima kasih ya kang.)

WeLL, bersenang-senang di

GREEN

CANYON

ternyata menghabiskan waktu dua jam. Hari nyaris menjalang senja. Jam setengah empat sore. P7110213 Baju basah kuyup harus diganti Perut mulai keroncongan minta diisi. So, kami pun menikmati pecel, nasi rames dan kelapa muda di kantin depan wana wisata. Lumayan kenyang. Perjalanan kembali ke PanganDaran dimulai lagi. Semula dengan kecepatan rendah. Tapi beGitu senja Jingga muncul kami bergegas ke Pantai Hiu. Berharap dapat menikmati sunset dari atas bukit. Tapi kami gagal. Pantai Hiu bukan pilihan tepat. kami Cuma sempat berfoto di bukit yang banyak ditumbuhi Pandan Wong, dengan pemandangan biru Samudra

Indonesia

ini.

Kesenangan pun kami pikir berakhir hingga di pantai ini. Tapi kami diiming-imingi lagi dengan indahnya purnama bundar jingga yang nampak besar yang terlihat dari kejauhan Pantai PangandaRan. Kami lagi-lagi bergegas pulang. Mengantarkan sepeda motor yang sudah habis masa sewanya. Menggantinya dengan sepeda ontel merah yang dikayuh mati-matian menuju Pantai Timur PangandaRaN. MenuTup keseNanGan hari itu dengan bersantap seafood di warung Bu Iyos.

P7100197Ini kenangan tentang indahnya Pantai PangandaRan yang sempat kami alami sendiri sebelum tsunami, 17 Juli 2006. SeMinggu persis sebelum tsunami terjadi, pada jam yang sama, kami masih sangat asik bermain ombak dan bergaya bak perselancar disana. menikmaTi sensasi terBawa Ombak yang mencapai bibir pantai dengan gabus sewaan bersama ratusan orang lainnya. 

Tapi Kini, sebagian Pantai PanGanDaran tinggal puing. Paling tidak itu yang sempat kami lihat ketika kami kembali dan melakukan tugas jurnalistik di tempat itu. Yang Tertinggal kini hanya kenangan. Tapi untung orang-orang yang kami kenal selamat. Tapi mereka Butuh waktu untuk berbenaH. Berdiri lagi dan kembali berbagi dan Memberi kenangan Indah kepada lainnya Kami.

Inspirasi

Tuesday, August 8th, 2006

sedaRi dulu ku coba cari makna kehidupan

Jawaban mengapa TUhan ciptakan manusia dengan segala yang ada.

Tawa tangis, suka duka, jatuh cinta, patah hati.

Kemiskinan, kekayaan, anak-anak terbuang,orang-orang terpinggirkan, koruptor, lintah darat, pejabat, dan penjahat.

Aku yakin jawabannya cukup terangkum dalam satu kata yang punya makna tak terhitung.

Dan itu adalah CInTA.

Hidup bukan soal mencari kesempurnaan.

Bukan soal mencari kekayaan yang tak lekang dimakan zaman.

juga Bukan soal kuasa.

Hidup adalah soal mencari KEBAHAGIAAN.

Dan jalan sejati menujunya adalah dengan CINTA.

ChaPteR III

Wednesday, August 2nd, 2006

I.K.R.A.R

Selatan Pantai Jawa, pertengahan musim panas. Senja mulai pergi, malam mulai merambat. Bulan bulat penuh, jingga pandarannya. Diatas sepeda merah, kami bergegas meraihnya..Mengejar dan mengapainya. Merasainya, menghabiskan keindahan yang tersisa dari pelarian terakhir kami. Tapi purnama keburu pergi. Dia harus terus menghidupi bumi.

Tapi Sang Purnama baik hati. Dia mampir di atas beranda kami. Tempat sunyi dimana kami membunuh duka. Meski tak lagi bulat penuh, kami masih bisa mengenalinya. Pandaran kuningnya kini yang ada di depan mata. Berdiri jauh. Bermain dengan arakan mega. Langit begitu bersih dan lapang.

Lalu Angin jadi semakin dingin. Kami duduk berjauhan di beranda. Aku di kursi menahan dingin dan kantuk, Kekasihku asik duduk di pinggir dengan dawai gitar pinjamannya. Memainkan dan mencoba merangkai nada yang lama tak dia sentuh. Menguntai kata, melantunkan melodi tua. Lamat-lamat lalu tajam menghentak, dia senandungkan balada.

Meniti hari meniti waktu

Membelah langit belah samudra
Ikhlaslah sayang kukirim kembang
Tunggu aku, tunggu aku

Rinduku dalam semakin dalam
Perjalanan pasti kan sampai
Penantianmu semangat hidupku
Kau cintaku kau intanku

Do’akanlah sayang
Harapkanlah manis
Suami segera kembali
Suami … suami yang baik

Kutitipkan semua yang kutinggalkan
Kau jagalah semua yang mesti kau jaga
Permataku … aku percaya padamu

Malam itu begitu sempurna. Satu Mimpiku nyaRis terwujud utuh. Tapi ku pilih meninggalkannya sendirian dengan gitar dan dukanya. Aku lari dari kesedihan dan jalan yang kami tempuh. Aku tak mau dia tahu sakitku. Aku tak mau itu menambah bebannya. Aku berlakon tegar, demi kasih yang kami punya.

Dan Lakonku sempurna. Lelakiku percaya aku pulas dalam tidur palsuku. Tidur palsu. Alih-alih tempat berlari dan bersembunyi dari rasa resah dan takut. Tidur dengan rasa sesak yang luar biasa. Rasa sakit tak terkira. Karena tangis tak diumbar. Tangis cuma jadi batu dan tak berkata dalam dada.

Dalam tidur palsuku, ku dengar jelas setiap kata dari mulutnya. Juga senandung yang biasa dia lantunkan bagi bidadari kecilnya. Juga tangisnya untuk ku, untuk kita dan untuk mereka. Keduanya bagai belati. Tangisku pun nyaris memberontak ingin keluar. Tapi ku tahan sekuat tenaga, demi Kasih yang kami punya.

Dini hari dingin, Ku rangkul dia dalam dekapan. Duka, tangis, pertanyaan, harapan, ketakutan, resah tak menjadi sebuah keputusan atau kesepakatan. Semuanya Cuma terangkum dalam dekapan.

Kekasih ku..Aku menyayangimu. SangaT. Tapi dekapan harus berakhir. Kita harus melangkah pergi. Pantai Kenangan harus ditinggalkan. Dan Sang Waktu belum berpihak. Belum berbaik hati dan seramah purnama. Dan Aku Cuma bisa Percaya Padamu…demi kasih yang kita Punya.