Archive for September, 2006

Friday, September 29th, 2006

Get out of my head

Friday, September 29th, 2006

Get out of my head

Death RoW Vs HuMaN Rights

Friday, September 22nd, 2006

KepergiaN raga mereka ikut ditangisi bumi..
Perih pasti rasanya ditinggal pergi
Sedih, lalu jadi Emosi
Mana Keadilan bagi kami ?

*************************************************
"The death penalty is the ultimate cruel, inhuman and degrading punishment. It violates the right to life." (Amnesty International)

Memantau dan mengamati hampir setiap perkembangan pelaksanaan hukuman mati bagi Om Tibo, Marinus dan Domi, jadi satu hal yang begitu menyesakkan ternyata. Gw sempat dapat tuduhan pro eksekusi oleh seorang rekan jurnalis, hanya karena gw tidak menunjukkan simpati gw dengan berada di Palu.

Jujur gw ga ambil pusing soal tuduhan itu. Sebagai jurnalis, kata bos gw kita dituntut untuk netral. Tapi buat gw pribadi, sah sah saja kita sebagai individu punya keberpihakan dalam bersuara atas nama pribadi. Namun kalau soal produk yang kita hasilkan seperti berita dalam cetak-suara-gambar dan suara, jurnalis tetap harus obyektif. HARAM hukumnya punya keberpihakan ! Cover both side !

Mendapat tuduhan seperti tadi yang gw sebutkan bukan satu hal yang menyesakkan sekali sebenarnya. Ada banyak hal yang gw temukan dalam mengulik-ulik isue ini, yang bikin gw ngurut dada. Dan itu adalah fakta soal pemerintah begitu ngotot dan keras kepala untuk mengeksekusi ketiganya meski sempat beberapa kali tertunda.

Gw pikir sikap pemerintah itu, didorong oleh motif legalisasi terhadap eksekusi terhadap para terpidana mati kasus Bom Bali, Amrozi dan kawan kawan. Eksekusi terhadap Om Tibo dkk, cuma jadi pintu masuk bagi eksekusi para terpidana kasus Bom Bali yang mendapat cap teroris oleh Amerika Serikat. Dengan mengeksekusi Tibo, maka pemerintah punya semacam keabsahan untuk mengeksekusi Amrozi dkk. Barter yang sangat murah, begitu komentar bos gw. Padahal ini soal nyawa. Soal hak hidup setiap manusia di muka bumi…begitu komentar gw.

Well…bicara soal hukuman mati. Mau pake dasar apapun, gw tetap menolaknya !
Buat gw ga ada satu pun manusia di muka bumi ini, yang punya hak untuk mengambil hidup orang lain. Tuhan yang menciptakan manusia, meniupkan roh dan memberikan nyawa bagi manusia untuk hidup. Maka Tuhan pula lah yang punya hak untuk mengakhiri apa yang Dia berikan itu.

Harus diingat juga bahwa setiap Manusia pasti punya salah. Setiap manusia juga termasuk Hakim, polisi, jaksa atau saksi di pengadilan. Kalau Tuhan punya sifat Maha Pengasih, Penyayang dan Pemaaf, kenapa manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya justru mengabaikannya ? Memaksakan diri dipenuhi dengan kebencian.

Tak membekali diri dengan sikap memaafkan.
Aduh…sediH.

Pun…Death Row has never been shown to deter crime more effectively than other punishments, begitu tulis Amnesty International dalam website mereka.

Kenapa Indonesia masih saja memberlakukan aturan warisan Londo yang disahkan tahun 1918 dengan nama Wetboek van Strafrecht alias KUHP ini ?

Padahal dewasa ini, bagi kebanyakan negara, hukuman mati sudah dianggap kejam dan takmanusiawi. Hingga 9 Desember 2002 tercatat telah 149 negara melakukan ratifikasi/aksesi terhadap kovenan ini. Khusus terhadap penghapusan hukuman mati, 49 negara telah pula melakukan ratifikasi/aksesi terhadap Second Optional Protocol of International Covenant on Civil and Political Rights-ICCPR (1990) Aiming of The Abolition of Death Penalty.

Pada bagian III, Pasal 6 (1), kovenan ini menyebutkan bahwa :
" Setiap manusia berhak atas hal untuk hidup dan mendapatkan perlindungan hukum
dan tiada yang dapat mencabut hak itu."

Dan Indonesia masih masuk dalam negara yang masih menganut hukuman mati.
Aduh..Aduh…
300pxdeath_penalty_world_map2

PS : Gambar diatas adalah Peta Hukuman mati di seluruh dunia.
Biru: dihapus untuk semua kejahatan
Hijau: dihapus untuk kejahatan biasa tetapi tidak untuk luar biasa (perang)
Oranye: secara praktis telah menghapus
Merah: masih dilakukan

ChaPteR V

Wednesday, September 20th, 2006

Love is passion, obsession, someone you can’t live without.

If you don’t start with that, what are you going to end up with?

Fall head over heels.

I say find someone you can love like crazy

and who’ll love you the same way back.

And how do you find him?

Forget your head and listen to your heart.

I’m not hearing any heart.

Run the risk, if you get hurt, you’ll come back.

Because, the truth is there is no sense living your life without this.

To make the journey and not fall deeply in love.

Well, you haven’t lived a life at all. You have to try.

Because if you haven’t tried, you haven’t lived.

(Meet Joe Black, 1998) .

**************************************************************

Run the risk..thats the play Im in it now

Dont know how it will end

All I know Im starting to think that my part almost finish

And I also know I will come back on my own feet again

I’ve Try and I Live as they saiD

But WHY deeplY loving like this hurts so Much ?

D.T.K

Monday, September 11th, 2006

Dtk_1 Gara-gara ambruk nyaris semaput, gw ga sengaja nonton sinetron mak. (Sinetron gitu loh..barang haram yang paling gw hindari kecuali buat dicaci tentunya..hihihihi…)

Malam minggu jam 21.00 WIB, nongol di layar kaca RCTI, sembari berkegiatan kerok-mengkerok, gw nonton sinetron ini. Sinetron yang digembar-gemborkan sebagai sebuah serial TV yang lain daripada yang lain atau bahkan disebut Sejarah baru prime time.(Deuh segitunya…)

Jujur sih gw ga tau kalau DUNia Tanpa KOma (DTK) adalah sebuah sinetron. Gw pikir itu film barunya Dian Sastro yang diperankan sama banyak pemeran film terkenal lainnya. Sekelebatan doangan sih liat wawancara infotainment sama Dian di TV. Wajar kan gw ga tau bgitu. Trus payahnya gw ga nggeh juga, ketika ada banyak ikon merah dengan tulisan DTK di pinggir kanan atas, di setiap tayangan program RCTI yang gw tonton.

Gw baru bener-bener nyadar yah pas malam minggu itu, pas mba Andru yang lagi asik “melukis” badan gw, langsung nyomot remote sambil nyerocos

“ Eh Dunia tanpa Koma”. Wacks !!! Baru nyadar deh gw…”Ow….sekarang tho’ tayangnya. Gw pikir film…ternyata sinetron yak ? hehehehehehe……”

Well….melihat DTK meski ga penuh satu setengah jam…mulai kumat deh jiwa nyela gw. Bener-bener gw amati tuh sinetron scene by scene-nya. And my general comment is NOT BAD.

Tapi secara gw kritis…(deuh..kritis ape doyan nyela’..hihihi…), gw masih uring-uringan sama scene ketika Bayu, sang redaktur pelaksana Majalah Target yang diperankan Tora Sudiro, seenaknya saja memindahkan anak buahnya ke desk lain karena ga dapet berita yang sama seperti yang di dapet Bramantyo, wartawan harian saingan mereka yang diperankan Fauzi Baadila.

Ngomel-ngomelan lah gw pas scene itu muncul. Ga segitunya deh yang namanya kebijakan redaksi. Ga seenak udelnya gitu. Ga demokratis sama sekali. Otoriter sekali pimred dalam rapat redaksi macam itu. Secara gw wartawan yang kerja dan terlibat dalam rapat redaksi, gw pikir scene itu patut dipertanyakan.

Gw masih yakin, tidak sedemikian vulgar keputusan memindahkan desk satu atau dua reporternya gara-gara dia ga dapet berita besar. Kalau pun ada keputusan seekstrim itu, itu diputuskan dalam rapat para big bos alias rapatnya redaktur, editor, dan pemimpin perusahaan. Memindahkan SDM ke desk lain bukan suatu keputusan instant macam itu. Perlu ada evaluasi terlebih dulu, apa keputusan itu perlu diambil atau tidak.

Tapi memang ada juga beberapa perusahaan pers yang gw tau memang punya kebijakan rolling desk setiap 3 atau 6 bulan sekali kepada reporternya. Gw sendiri juga sempet ngalamin kok. Dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan atau mudah atau instant untuk diputuskan. So wajar dong gw terganggu dong dengan scene itu…(ciee…pembelaan diri..hihihihi..)

Gimana ga terganggu coba ? Scenarionya ditulis sama mbak Leila S. Chudori. Seorang wartawan kawakan bidang sastra yang kerja buat TEMPO-institusi yang punya wibawa dan track record bagus-. 16 tahun mengabdikan diri sebagai wartawan, gw pikir mbak Leila sangat tau soal keputusan memindahkan reporter ke desk lain dong.

Juga soal scene dimana Slamet Rahardjo, sang pemimpin redaksi, marah ga keruan gara-gara harian saingannya dapet berita dan mereka tidak. Ada gitu yah ? Yang gw tau sih paling marahnya dalam bentuk halus tapi sama menyakitkannya kok. Bentuknya lebih kepada teguran yang tajam dan nyelekit. Yah..setidaknya begitu yang gw tau dan alami. Tidak dengan cara teriak-teriak macam itu. Its so Murphy Brown banget deh….

Yah akhirnya gw pikir dan mengalah pada penjelasan mbak Leila bahwa sinetron ini adalah cerita fiktif. So gw coba memaklumi bahwa tetap ada beberapa hal nyata dalam kehidupan kita yang dilebih-lebihkan untuk menciptakan suasana yang lebih mengundang perhatian penonton. Tapi lagi-lagi secara gw wartawan, gw tetep aja protes..hehehehe….

Abis kalau benar kata mbak Leila bahwa suasana di majalah Tempo,saat sebelum dibredel di awal tahun 90an, sangat mempengaruhi proses kreatifnya membuat scenario sinetron ini, gw jadi bertanya-tanya lagi tentunya. “Emang suasana Tempo awal 90-an, pake acara keputusan otoriter bin instant pemindahan reporter ke desk lain yak ?”

Oh iya. Ada satu scene lagi yang menganggu lagi buat gw. Scene dimana Dian berangkat kerja ke kantor dengan mengendarai sepeda ontel lalu berganti pakaian di toilet lalu menjadi cantik setelahnya.

Sekonyong-konyong..mulut gw berkomentar dong…Taela…luar negri banget yak scene-nya. Mana ada wartawan cewek yang pergi ke kantor naek sepeda goes goes ke kantor di Jakarta nan panas bin berdebu ini ?”

Tapi kalau bener ada mah…sok atuh kasih tau gw yak…

Yang gw tau dan kenal dari temen2 wartawan cewe gw yang latar belakang materinya berkecukupan seperti tokoh yang diperankan Dian, rata-rata pada naek mobil atau angkutan umum.

Well…its not that I don’t appreciate this drama series. Lumayan bagus kok buat pencerahan dunia persinetronan kita yang belakangan didominasi dengan tayangan soal ajaran islam yang dilanggar dan pasti dihukum berat sama Tuhan..(Ih….sebel ! Bikin Islam jadi agama yang mengerikan deh. Bikin Allah jadi jahat banget gitu. Padahal Allah kan Maha PEnyayang dan Pemaaf).

Soal judul yang disebut sebagai gambaran dunia jurnalistik berita yang tanpa jeda, yang tak memiliki "jam kerja" yang ketat 9 to 5 seperti profesi lain, gw ga ada masalah. Meski memang harus keep alert dan bersedia tetap bekerja pada jam-jam gila, dunia ini masih ada jeda nya juga kok kadang.

Tapi kalau gw boleh saran sih..tayangan DTK ini kan juga tujuannya guna mendidik masyarakat kita. Mbok ya..dibikin lebih pas dengan realita yang ada dalam dunia jurnalistik. Kan mbak Leila bilang, dia bikin sinetron ini sebagai bentuk kepeduliannya terhadap tayanganTV Indonesia….(cie…cie…cari dukungan..hehe…)

Bikin realitas soal dunia kewartawanan yang lebih nyata dong. Biar image wartawan yang sekarang masih cenderung negative di mata masyarakat, bisa disajikan lebih utuh.

Salam…

F.R.E.E

Sunday, September 10th, 2006

I want to break free
I want to break free
I want to break free from your lies
You’re so self satisfied I don’t need you
I’ve want to break free
God knows, God knows I want to break free

I’ve fallen in love
I’ve fallen in love for the first time
And this time I know it’s for real
I’ve fallen in love, yeah
God knows, God knows I’ve fallen in love

It’s strange but it’s true
I can’t get over the way you love me like you do
But I have to be sure
When I walk out that door
Oh how I want to be free, baby
Oh how I want to break free,
Oh how I want to break free

But life still goes on
I can’t get used to, living without, living without,
Living without you by my side
I don’t want to live alone, hey
God knows, got to make it on my own
So baby can’t you see
God knows, gods know, gods know
I’ve want to break free

***********************************************

Lagu yang tiba-tiba muncul
Mungkin ini pilihan solusi
Teriakan dalam hati atas ketidakpastian ini..

Yeah..I just want to Break Free…

ChaPteR IV

Sunday, September 3rd, 2006

Tiada…

Kenapa Rasa ini menjaDi begitu SakiTT
KeNapa OTaK ini jaDi bgitu kosong
meski kadang ia begitu LiaR menGembaRa.
BicaRa soal DusTa-MisTrusT-LosinG Faith
aTau kadaNg soaL CINTA

PUTusKan !
RamPungKaN !
LaLu JatUH
GELAP-
PengAP-
TaK BERdaYa

LaLu CERaH
dan HIDUP LAGI
Meski Tak Sama Lagi….

=================================================

Tangis itu akhirnya pecah juga.
Semua Yang berhasil dengan rapi disembunyikan dan dialihkan tak mampu lagi bertahan.
Teriakan dalam hatinya kini berujung pada tetes airmata.
Tak jelas penyebabnya.

Aku hanya menyerah tanpa daya.
menyembunyikan Lara dalam toilet, sendiri dan sepi
Ragu dan tak MengerTI apa Yang TengaH TErjadi

Mungkin ini soal ketidak berdayaan dan semua yang tiada terJawaB.
entaH…
Mungkin juga soal Iri dengan smua Kisah CINTA yang salinG MembaGI
Atau ini sebenaRnya soaL "Aku DitinggaLkan Lagi"

tak BerjaWaB
Cuma Bisa MenanTi tak Pasti
dan MengHitunG Hari…
Lalu Bertanya Lagi "Kau Bawa PulaNG lagi Cintamu itu Lelaki ?"

Tetap senyap
Tak Ada SahUTaN…
TELaGa tak Lagi PUnya PengHuni…