Archive for December, 2006

NataLku

Tuesday, December 26th, 2006

NataL ku dingin
Tidak ada PeraPian
TiDak Ada Kado-Pohon cantiK nan SemaraK MenYaLa
Tidak ada Pesta atau makan malam bersama
Tiada Kamu

Tapi lalu NATALku jadi hangat
Jadi Ringan, Jadi IndaH..jadi MengaliR
ketika akhirnya ego itu KalaH-RunTuH

Ucapan dengan sesak akhirnya ku kirim
Tidak mudaH..Ada kemeLut disana,
Tapi ku beranikan diri Meski sadar tiada kan berjaWab
Lalu Bintang KU berSInaR..
Ku lumerkan KebeKuan & DingiN nataL yang Ku CiptakaN

Aku CUma Ingin MembeRi
Aku cuma ingin Ikut Berbahagia
BergembiRa
BersuKa Cita atas kebahagiaan semua orang
Juga kemenanganku atas sang Ego

Tapi maaf…aku masih menunggu
Menunggu
AlasaN..

PereMpuan Perkasa-part 3

Thursday, December 21st, 2006

<!–
@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
–>

Part
3

Saya
tidak terlalu mengenalnya. Hanya dalam hitungan jam saja kami
berjumpa. Kesan pertama saya adalah, ekpresi yang sangat datar.
Mengesankan keterkejutan pada ramainya ibukota. Namanya  Haderita
Rangkobulu, ibundaYarni Sambue yang tewas dipenggal kepalanya setahun
lalu di Poso. Perempuan paruh baya ini rupanya baru pertama memijak
Jakarta. pantas dia nampak seperti orang yang tersesat dan serba
binggung.

Dari
awal saya sudah begitu tertarik padanya. Entah mengapa. Saya cuma
mengamati saja dari jauh bagaimana dia bolak balik dari satu ruang
luar ke ruang dalam Pengadilan Jakarta Pusat, Nopember 2006 kemarin.
Saya baru tahu nama dia, ketika David, kakak Novita yang selamat dari
aksi pemenggalan kepala di Poso, mengenalkan saya secara personal.
Wajahnya tak lagi datar. Ada senyum mengembang disana. Saya sangat
senang melihatnya. Itu yang saya tunggu.

Saya
bahkan sangat ingin memeluknya. Bentuk simpati saya atas kekuatannya
menghadapi kematian tragis putrinya, memperjuangkan keadilan atas
perbuatan itu, dan juga atas kelapangan hatinya yang luar biasa.
Kelapangan hati memaafkan dua orang terdakwa yang kini tengah
menjalani proses hukum.

Buat
saya itu sangat luar biasa. Buat seorang ibu yang mengaku terguncang
begitu melihat kondisi mengenaskan jenazah putri tercintanya lalu
bagaimana trauma yang menimpa keluarganya akibat peristiwa itu,
memaafkan para pelakunya, pasti sangat tidak mudah. Dia bilang,
“Inilah KASIH yang Tuhan Yesus ajarkan pada kami. KASIH itu lah
yang mendorong kami untuk memberikan maaf pada mereka. Soal penegakan
hukumnya adalah hal yang berbeda. Kami tetap ingin mereka mendapat
ganjaran yang setimpal.”

Haderita
hanyalah seorang perempuan sederhana dengan pikiran yang juga
sederhana. Dia tak terlalu paham bahwa pemberian maaf yang dia
lakukan bersama orangtua korban lainnya, sangat bisa mengurangi masa
hukuman yang dijatuhkan pengadilan. Tapi lagi-lagi, baik Haderita
juga orangtua korban lainnya berucap “INILAH KASIH TUHAN.”

SelamaT
Hari Ibu.

Beri
Mereka Apa Yang Kau Janjikan atas Keperkasaan-Kekuatan-KEsabarAn
Mereka.

Juga
SemuA KeluarBiasaan Yang Ibunda Saya Miliki untuk keluarGa Kami

Beri
Saya, hal yang sama Seperti Mereka punya TuhaN.

Beri
Saya KesempaTan..MenjaDi IBU….

The
EnD

PeremPuan-PeremPuan PerKasa, part 2

Tuesday, December 19th, 2006

Part 2

Kisah Perempuan Perkasa kedua adalah Nursyamsiah. Saya mengenalnya sekitar Maret 2006 lalu. Perempuan asal Langsa Aceh ini, biasa saja. Sekurus saya tapi lebih berumur. Wajahnya tampak keras, tapi senyumnya tak pernah lepas. Suaranya lantang ketika kami berbincang tentang kisah pahit mengesalkan memalukan mencemarkan nama baiknya pada Februari 2006, di depan hotel Sultan, Banda Aceh.

Penuh nada kesal dia menuturkan kisahnya digelandang Wilayatul Hisbah(WH) akibat tak berjilbab. Dia sangat kesal. Bahkan ketika Nopember lalu kami menjumpainya lagi di kampong halamannya Langsa, kekesalan itu masih kuat tertinggal.

Jelas-jelas dia tidak terima perlakuan WH yang tak salah sasaran. WH menangkapnya bersama 2 orang rekan lainnya pada nyaris tengah malam, bukan di tempat umum, diperlakukan kasar dan dicemooh serta dituduh sebagai perempuan malam oleh warga yang melihat arak-arakan WH ketika mereka ditangkap.

Ugh…sungguh bukan sebuah peristiwa yang mengenakkan untuk diingat. Saya juga pasti akan melakukan tuntutan seperti yang Nursyam lakukan mereka terhadapnya. Nursyam tahu soal penerapan Syariat Islam. Dia bekerja pada Kantor Dinas Syariat Islam Lhokseumawe. Pada saat dia ditangkap, dia justru tengah mendiskusikan soal itu juga dengan dua orang rekannya, usai seminar di hotel tersebut. Naas memang nasib Nursyam dan dua rekannya. Perlakuan kasar itu harus dialami Nursyam ketika dia tengah mengandung anaknya yang kini sudah dua bulan umurnya.

Tidak mudah untuk membuat Nursyam mau menceritakan kisahnya itu kepada kami pada awal pertemuan kami di kantor KOmnas Perempuan, Jakarta. Kami nyaris menyerah dan tak berani lebih jauh memaksa. Tapi saya yakinkan dia untuk tetap berani berbagi cerita kepada kami, yang harus merekam ceritanya itu dengan teknik tertentu yang tetap dapat melindungi identitasnya. Saat itu Nursyam takut wajahnya dilihat public. Saya memahaminya. Kala itu ada banyak kasus lain yang berkaitan dengan perlakuan WH terhadap perempuan lain di beberapa daerah di Aceh yang berakhir dengan terror. Nursyam jelas tidak mau itu. Peristiwa di Hotel Sultan itu saja masih meninggalkan trauma. Dia tidak mau menghadapi situasi terror lagi. Apalagi dalam kondisi hamil.

Kini Nursyam jauh lebih berani. Tanpa ragu-ragu dia mengijinkan kami merekam wajahnya dalam wawancara kami yang kedua soal kelanjutan kasusnya. Dia bilang “Rakyat Aceh khususnya perempuan harus tahu bagaimana implementasi syariat islam bisa jadi keluar jalur. Dan dia adalah salah satu korbannya. Tapi korban bisa berteriak. Korban juga bisa berjuang seperti apa yang kini dia tengah lakukan. Kasus saya adalah test case bagi kasus-kasus lainnya yang serupa.”

Saya salut terhadapnya ! Sangat salut. Sungguh berani, meski kini kasus itu harus dilempar Kejaksaan Negeri Aceh kepada polisi karena dinilai tidak cukup bukti. Yang saya tahu bukan itu alasannya. Yang sebenarnya terjadi adalah adanya tekanan agar kasus itu berhenti dari sejumlah instansi terkait yang merasa posisinya terancam dengan kasus itu. Polisi sendiri tak bisa berbuat banyak. Upaya sungguh-sungguh mereka membantu Nursyam dalam kasus ini, kini berujung pada pemberhentian kasus. Mereka pilih di pra peradilankan oleh Nursyam. Tapi mereka juga berjanji akan membantu Nursyam, menyelidiki dari ulang kasus ini.

Sedih memang. Perjuangan Nursyam harus kembali lagi ke titik awal. Saya berharap adanya dukungan yang lebih solid dari kuasa hukumnya, juga banyak pihak. Saya yakin NUrsyam masih punya semangat itu. Perjuangan dari seorang perempuan Perkasa dari Langsa…

To be continue…

PeremPuan-PeremPuan PerKasa, part 1

Monday, December 18th, 2006

Entah sengaja atau tidak, usai membaca Majalah Tempo soal Perempuan Tidak Biasa dalam rangka Hari Ibu, tiba-tiba saya teringat beberapa Perempuan Perkasa yang saya kenal yang sudah lama hendak saya ceritakan.

Maafkan…otak saya lagi bebal. Akibat kelewat larut sama persoalan cinta(*hayah) juga terlalu banyak keluar kota lalu sakit, niatan itu jadi berkelanjutan terabaikan deh. PIkUN..KuN…hehehehehe…

*********************************************************************************

Part I

Ini bermula dari pertemuan dengan seorang perempuan bernama Zaharawati, di Krue Juli Timoe,Bireun, akhir Nopember lalu. Usianya 40-an. Sangat sederhana. Rambunya dia gulung ke atas sekenanya. Berbalut kain tradisional bercorak dedaunan senada dengan kaos merah bertulis FILA, Gurat kecantikannya masih kuat tertinggal. Kulitnya putih mulus meski tanpa sapuan make up di wajahnya. Dengan hangat dia menyambut kedatangan kami.

Dengan sibuk dia gelar tikar di ruang tamu rumah sempitnya, tempatnya tinggal bersama tujuh orang anaknya, dia mempersilakan kami. Dalam hati saya berucap “Semoga dia tidak memaksakan diri membuatkan kami teh manis. Gula mahal harganya. Kasihan kalau jatah yang ada di toplesnya berkurang karena kedatangan kami.

Saya longok dapur yang bisa saya lihat dari tempat kami duduk. Dan saya bersyukur, karena saya tidak melihat ada toples berisi gula disana. Pun dia pun untungnya lagi tidak menawarkan teh manis kepada kami karena sempitnya waktu yang kami punya. *Alhamdulillah…

Sesi wawancara kami mulai. Jujur saya tidak pernah menyukai sesi ini. Saya tau pasti saya pasti menangis. Saya kerap dikerubungi rasa bersalah karena memintanya bercerita lagi tentang dukanya. Duka ketika dia harus kehilangan suaminya. Ayah dari anak-anaknya. Bapak dari Rian, bungsu 6 tahun yang masih terus mempertanyakan kapan bapaknya pulang ke rumah.

Dan dugaan saya benar. Dia tak bisa berkata. Suaranya tercekat. Matanya nanar. Bisa ku rasa sesak dalam dadanya. Sangatt sesak.

Pasti sangat sulit.Sangat sulit…Menceritakan lagi bagaimana suaminya ditendang dan dipukul oleh oknum Brimob hingga mati yang menanyakan dimanakah gerangan GAM berada. Masa itu adalah masa konflik. Suaminya cuma buruh tani yang pendiam yang mencoba menghidupi tujuh orang anaknya. Tapi sang brimob tak percaya. Bahkan ketika anak-anak mereka berusaha meyakinkan sang brimob, bapak mereka cuma buruh dan tak mengenal satu anggota GAM pun.

Usaha itu percuma saja. Malah meninggalkan trauma mendalam pada si bungsu yang meskipun saat itu baru 3 tahun, masih ingat pada perlakuan jahat yang sang Brimob lakukan pada almahum bapaknya. Saya masih ingat bagaimana Rian menangis sejadi-jadinya, ketika kameramen kami masuk ke rumah mereka. Rian kecil rupanya masih takut dengan sosok laki-laki bertubuh besar yang dia pikir adalah sang Brimob yang memukulin bapaknya. Begitu penjelasab ibundanya kepada kami. *Ya Tuhan…Apa yang bisa kami lakukan untukmu Rian ?

Duka Zaharawati tidak Cuma itu saja. Ketika tsunami menerjang Aceh, dua tahun lalu, rumah yang dia tempati juga habis rata dengan tanah. Tapi dia masih sangat bersyukur, karena anggota keluarganya masih utuh. Dengan susah payah dia berusaha bangun lagi keluarganya. Bekerja sebagai buruh tani, dia kini bisa tinggal di rumah sempit beratap seng itu. Rumah yang dia akui pemberian orang. Sesama korban tsunami yang berbaik hati memberikan rumah itu untuk Zaharawati dan anak-anaknya.

Tak banyak penghasilan Zaharawati. Cuma cukup buat makan meski anak pertamanya yang laki-laki juga membantunya bekerja di ladang sebagai buruh tani.

Zaharawati tak keberatan dengan rumah sempit yang mereka punya. Tapi dia sangat sedih dengan nasib anak-anaknya yang sudah dan terancam putus sekolah. Mau apa jadi apa mereka kalau tak berpendidikan ? begitu keluhnya. Juga keluh saya..

Uang kompensasi ? Cuma sekali dia dapatkan. Jumlahnya juga sangat kecil. Setelah itu…tidak ada lagi kabarnya.

Saya sedih mengetahui semua duka yang harus dia jalani. Saya coba memposisikan diri ada dalam posisinya. Saya tidak yakin akan sekuat itu. Janda-kehilangan lelaki yang kau cinta-miskin-tak punya banyak uang untuk membuat anak-anakmu sekolah, sakit harus menanggung beban dan luka masa lalu yang terus menghantuimu..Sendirian…* Ya Tuhan…

Pikir saya…”Jahat sekali keputusan darurat militer itu. Seolah mengesahkan semua bentuk kekerasan dan kekejaman yang dilakukan aparat keamanan demi mengejar anggota GAm yang dinilai sebagai musuh kala itu. Bahkan terhadap warga sipil. Jahat ! Sangat jahat !

Lihat apa yang sudah mereka tinggalkan pada Zaharawati. Pada Rian kecil dan 6 saudaranya ! Lihat juga apa yang sudah ditinggalkan pada istri-istri lain atau anak-anak lain yang bernasib hampir serupa yang tak sempat saya temui di Bireun.

Perempuan-perempuan itu kini mengambil peran almarhum suami atau bapak mereka. Pergi ke kota dengan berjalan kaki tiga jam lamanya, menjual pisang dan daunnya ke kota, demi mengisi perut mereka.

Lihat ! Lihat lah mereka ! Lihat mereka Pak Presiden. Bapak wakil Presiden. Bapak Gubernur. Bapak atau Ibu Pejabat. Anggota Dewan yang Terhormat. LIhat MEreka..Lihat Mereka Ibu Pertiwi. Mereka butuh KaliaN…Mereka Butuh Kita…

To be continue…

Through The Rain

Thursday, December 14th, 2006

When you get caught in the rain

With no where to run

When you are distraught and in pain

Without anyone,

When you keep crying out to be saved

But nobody comes

And you feel so far away

That you just can’t find your way home

You can get there alone it’s okay

once you say.

I can make it through the rain

I can stand up once again

On my own and I know

That I’m strong enough to mend

And everytime I feel afraid

I hold tighter to my faith

And I live one more day

And I make it through the rain.

And if you keep falling down

Don’t you dare give in

You will arise safe and sound

So keep pressing on steadfastly

And you’ll find what you’ll need to prevail

Once you say.

I can make it through the rain

I can stand up once again

On my own and I know

That I’m strong enough to mend

And everytime I feel afraid

I hold tighter to my faith

And I live one more day

And I make it through the rain.

And when the wind blows

And shadows grow close

Don’t be afraid

There’s nothing you can’t face

And should they tell you

You’ll never pull through

Don’t hesitate, stand tall and say

I can make it through the rain

I can stand up once again

On my own and I know

That I’m strong enough to mend

And everytime I feel afraid

I hold tighter to my faith

And I live one more day

And I make it throgh the rain

I can make it through the rain

And stand up once again

And I’ll live one more day and I

I can make it through the rain

Oh yes you can

Oh your gonna make it through the rain

* I’ve just bought the CD. Somehow I like the rain just as much as I like this song.

Its sound very optimistic. I wish it can be that simple and optimistic as the lyric. But….I guess I just have to go through with this process…

SuDuT

Thursday, December 14th, 2006

Senja-Mendung dan Hujan

Aku masih bersama mereka.

Sore kemarin aku bersama senja

Menapak jalan dan kembali ke satu sudut

Sudut pot bunga tempat kita berjumpa sang ujung malam

Mencoba mengucap pisah

Yang malah berujung pada hasrat saling mendekap.

Kita duduk berdua

Malu-malu mengucap kata hati yang tersimpan

Membuang mata ke sekeliling

Mencoba untuk berpegang

tapi malah Tertawa, bercerita, bertengkar lalu sesak.

Sudut itu masih ada disana

Saban senja aku hampir selalu bersamanya

Sudut itu masih sama

Aku masih sama

Tapi apakah kamu masih sama sayang ?

Senja lalu, aku tersenyum dan duduk bersama sudut itu

Sudut itu belum mau pergi

Dan Aku ?

Berharap sekali untuk pergi

Tapi sudut itu masih saja ada disana

Untuk dilihat , Untuk dikenang

Sulit dibuang dari ingatan.

Sudut- senja – sepi – sendiri – dan aku.

Kami.

MenDunG

Wednesday, December 13th, 2006

Jakarta

masih mendung

Matahari masih malu-malu

Dibalik jendela mobil melaju, ku intip kamu

Ku nikmati kamu

Aku rindu.

Kepalaku berat

Nafasku juga

Perutku nyeri

Tapi senyumku tidak

Mendung membantuku

Bukan hujan.

Aku suka mendung akhir tahun

Sama persis dengan tahun lalu

Mendung, aku, sendu dan sendiri

Sakit hati – Kecewa – Marah – FoolisH.

Kepalaku berat lagi

Aduh kini perutku kram

Tapi aku harus pergi

Karena mendung masih menanti

HuJaN part 2

Tuesday, December 12th, 2006

Hujan nyaris menipuku

Nyaris membuatku mati karena menunggu

Menunggu membuatku sakitt.

Dua bulan lebih terlalu panjang

17 hari apalagi

Tidak ada 5 menit untuk jarak 500 meter itu.

Hujan datang lagi di senja itu

Aku masih enggan berdansa dan bermain dengannya

Aku pilih diam dan menunggu jawaban

Menunggu – resah- dan tiada berjawab

Ku terjang hujan

Ku bunuh dia

Aku datang dalam senja nan kelam

Senja kelam-kelabu

Aku tersenYum sendiri

Ada Rintik hujan disana

Sapu anginnya menerpa

Ku hirup dalam-dalam

Ku resapi setiap hembusannya

Begitu tenang

Begitu damai

Sesaat aku bahagia

Memejamkan mata

membaYangkan masa kita melaju di hutan tropis selatan kotamu

Berpeluk malu-malu lalu terjatuh bersama dan diam

Ku rindu peluk menentramkan itu

Pelukan yang membuatku jatuh-terperangkap

Atas suatu rasa yang tak mampu lagi ku kendalikan

Tak mampu ku bunuh – ku buang- ku sudahi

Senja tidak merah jambu disini saYang

Kamu tidak ada disini Sayang

Cuma aku dan senja saja Sayang

Dan aku bahagia

Senja membawaku ke sebuah pemakamam

Ada

wangi yang ku sangat ku suka

Wangi kamboja dan lagi-lagi bau tanah kena hujan

Aku suka hujan

Aku rindu hujan

Aku rindu kamu SayanG…