Entah sengaja atau tidak, usai membaca Majalah Tempo soal Perempuan Tidak Biasa dalam rangka Hari Ibu, tiba-tiba saya teringat beberapa Perempuan Perkasa yang saya kenal yang sudah lama hendak saya ceritakan.
Maafkan…otak saya lagi bebal. Akibat kelewat larut sama persoalan cinta(*hayah) juga terlalu banyak keluar kota lalu sakit, niatan itu jadi berkelanjutan terabaikan deh. PIkUN..KuN…hehehehehe…
*********************************************************************************
Part I
Ini bermula dari pertemuan dengan seorang perempuan bernama Zaharawati, di Krue Juli Timoe,Bireun, akhir Nopember lalu. Usianya 40-an. Sangat sederhana. Rambunya dia gulung ke atas sekenanya. Berbalut kain tradisional bercorak dedaunan senada dengan kaos merah bertulis FILA, Gurat kecantikannya masih kuat tertinggal. Kulitnya putih mulus meski tanpa sapuan make up di wajahnya. Dengan hangat dia menyambut kedatangan kami.
Dengan sibuk dia gelar tikar di ruang tamu rumah sempitnya, tempatnya tinggal bersama tujuh orang anaknya, dia mempersilakan kami. Dalam hati saya berucap “Semoga dia tidak memaksakan diri membuatkan kami teh manis. Gula mahal harganya. Kasihan kalau jatah yang ada di toplesnya berkurang karena kedatangan kami. “
Saya longok dapur yang bisa saya lihat dari tempat kami duduk. Dan saya bersyukur, karena saya tidak melihat ada toples berisi gula disana. Pun dia pun untungnya lagi tidak menawarkan teh manis kepada kami karena sempitnya waktu yang kami punya. *Alhamdulillah…
Sesi wawancara kami mulai. Jujur saya tidak pernah menyukai sesi ini. Saya tau pasti saya pasti menangis. Saya kerap dikerubungi rasa bersalah karena memintanya bercerita lagi tentang dukanya. Duka ketika dia harus kehilangan suaminya. Ayah dari anak-anaknya. Bapak dari Rian, bungsu 6 tahun yang masih terus mempertanyakan kapan bapaknya pulang ke rumah.
Dan dugaan saya benar. Dia tak bisa berkata. Suaranya tercekat. Matanya nanar. Bisa ku rasa sesak dalam dadanya. Sangatt sesak.
Pasti sangat sulit.Sangat sulit…Menceritakan lagi bagaimana suaminya ditendang dan dipukul oleh oknum Brimob hingga mati yang menanyakan dimanakah gerangan GAM berada. Masa itu adalah masa konflik. Suaminya cuma buruh tani yang pendiam yang mencoba menghidupi tujuh orang anaknya. Tapi sang brimob tak percaya. Bahkan ketika anak-anak mereka berusaha meyakinkan sang brimob, bapak mereka cuma buruh dan tak mengenal satu anggota GAM pun.
Usaha itu percuma saja. Malah meninggalkan trauma mendalam pada si bungsu yang meskipun saat itu baru 3 tahun, masih ingat pada perlakuan jahat yang sang Brimob lakukan pada almahum bapaknya. Saya masih ingat bagaimana Rian menangis sejadi-jadinya, ketika kameramen kami masuk ke rumah mereka. Rian kecil rupanya masih takut dengan sosok laki-laki bertubuh besar yang dia pikir adalah sang Brimob yang memukulin bapaknya. Begitu penjelasab ibundanya kepada kami. *Ya Tuhan…Apa yang bisa kami lakukan untukmu Rian ?
Duka Zaharawati tidak Cuma itu saja. Ketika tsunami menerjang Aceh, dua tahun lalu, rumah yang dia tempati juga habis rata dengan tanah. Tapi dia masih sangat bersyukur, karena anggota keluarganya masih utuh. Dengan susah payah dia berusaha bangun lagi keluarganya. Bekerja sebagai buruh tani, dia kini bisa tinggal di rumah sempit beratap seng itu. Rumah yang dia akui pemberian orang. Sesama korban tsunami yang berbaik hati memberikan rumah itu untuk Zaharawati dan anak-anaknya.
Tak banyak penghasilan Zaharawati. Cuma cukup buat makan meski anak pertamanya yang laki-laki juga membantunya bekerja di ladang sebagai buruh tani.
Zaharawati tak keberatan dengan rumah sempit yang mereka punya. Tapi dia sangat sedih dengan nasib anak-anaknya yang sudah dan terancam putus sekolah. Mau apa jadi apa mereka kalau tak berpendidikan ? begitu keluhnya. Juga keluh saya..
Uang kompensasi ? Cuma sekali dia dapatkan. Jumlahnya juga sangat kecil. Setelah itu…tidak ada lagi kabarnya.
Saya sedih mengetahui semua duka yang harus dia jalani. Saya coba memposisikan diri ada dalam posisinya. Saya tidak yakin akan sekuat itu. Janda-kehilangan lelaki yang kau cinta-miskin-tak punya banyak uang untuk membuat anak-anakmu sekolah, sakit harus menanggung beban dan luka masa lalu yang terus menghantuimu..Sendirian…* Ya Tuhan…
Pikir saya…”Jahat sekali keputusan darurat militer itu. Seolah mengesahkan semua bentuk kekerasan dan kekejaman yang dilakukan aparat keamanan demi mengejar anggota GAm yang dinilai sebagai musuh kala itu. Bahkan terhadap warga sipil. Jahat ! Sangat jahat !
Lihat apa yang sudah mereka tinggalkan pada Zaharawati. Pada Rian kecil dan 6 saudaranya ! Lihat juga apa yang sudah ditinggalkan pada istri-istri lain atau anak-anak lain yang bernasib hampir serupa yang tak sempat saya temui di Bireun.
Perempuan-perempuan itu kini mengambil peran almarhum suami atau bapak mereka. Pergi ke kota dengan berjalan kaki tiga jam lamanya, menjual pisang dan daunnya ke kota, demi mengisi perut mereka.
Lihat ! Lihat lah mereka ! Lihat mereka Pak Presiden. Bapak wakil Presiden. Bapak Gubernur. Bapak atau Ibu Pejabat. Anggota Dewan yang Terhormat. LIhat MEreka..Lihat Mereka Ibu Pertiwi. Mereka butuh KaliaN…Mereka Butuh Kita…”
To be continue…