*Inspired by street barbershop man on Urip
sunohardjo street Jatinegara-
Rabu siang, 2 hari
menjelang HUT RI ke-62.
Terik panas,
keringat lengket, mataku yang silau tertuju kepadanya.
Lelaki tua,
kerempeng beruban, berdiri terkantuk di pinggir trotoar.
Di depannya
terpampang koper berisi peralatan sederhana.
Bedak bayi, busa
pupur, gunting, obat merah, kain tipis pembungkus badan pelanggannya yang
dinaungi terpal seadanya atau paying besar warna warni.
Usianya 60-an.
Tak terpaut jauh
dari bapak di rumah, yang sehari sebelumnya ku dapati gurat senjanya.
Kala itu sedikit
sesal, dalam hati aku meminta pengertiannya.
“Maaf belum juga
menikah”.
Ku amati lelaki
tua itu.
Berkemeja putih
tipis dan celana bahan era 70-an.
Aku suka gayanya.
Klasik.
Tulang pipinya
menonjol di antara hidung mancung dan alis putihnya.
Dia tampan, begitu
simpulku.
Masa telah
mengerus kekuatan dan ketampanan yang terpendar kala mudanya.
Keadaan ekonomi,
begitu dugaku.
Entah lah…aku Cuma
bisa iba menahan tangis untuknya.
Lelaki tua yang
tak ku tahu namanya.
Aku cuma tau, dia
satu adalah salah satu dari lima lelaki seprofesi.
Profesi yang ku
tau pasti telah dilakoninya sejak lama
Profesi yang
mereka jalani tanpa keluh meski hasil tak seberapa
Profesi yang kini
semakin tersingkir akibat penertiban PKL dan merebaknya salon-salon di Jakarta.
Buat Bapak Tukang cukur
di trotoar gereja jalan Urip Sumohardjo Jatinegara,
salut dan hormat
ku untuk kalian.
MERDEKA ?!